Stud Tail: Diagnosa, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Mengobati

Penyakit Stud Tail pada kucing atau yang biasa disebut juga sebagai hiperplasia pada kelenjar buntut atau ekor, untuk ekor kucing jantan mengeluarkan kelenjar keringat (minyak) yang aktif pada bagian atas ekor. Kelenjar ini menghasilkan hipersekresi lilin yang membuat lesi kucing menjadi berkerak dan membuat kerontokan pada rambut (bulu). Jika kondisi ini sudah parah, maka bisa membuat ekor kucing menjadi rentan terhadap infeksi bakteri dan menyebabkan bau tak sedap.

Pengertian dari hiperplasia sendiri adalah kondisi kehitaman yang terjadi pada pangkal ekor kucing. Anda dapat melihat tanda – tanda stud tail kucing di bagian pangkal ekor kucing yang kotor dan berminyak disertai dengan kerontokan rambut (bulu kucing). Untuk kelenjar supracaudal atau sebaceous yang menghasilkan sekreta seperti minyak dan terdapat pada pangkal ekor kucing disebut sebum.

Stud Tail Kucing, Diangnosa Stud Tail, Penyebab Stud Tail, Gejala Stud Tail, Pencegahan Stud Tail, Cara Mengobati Stud Tail, Gambar Stud Tail

Kelenjar supracaudal atau sebaceous tersebut banyak ditemukan di dorsal, dagu, kelopak mata, bibir, permukaan dasar ekor, skrotum dan preputium yang berhubungan dengan folikel atau (folikulitis) bulu kucing. Pada kondisi yang abnormal, kelenjar ini akan memproduksi atau menghasilkan sebum yang berlebihan.

Selain itu perlu anda pahami kalau kelenjar sebaceous pun berperan dalam penandaan teritorial, sehingga kita sebagai pemilik kucing harus lebih memperhatikan mereka pada saat kucing menggosok atau menggaruk wajah dan dagunya. Karena seiring berjalannya waktu hal tersebut dapat meninggalkan bercak yang berminyak.

Untuk kucing jantan, dia memiliki hormon yang dapat meningkatkan sekresi. Inilah penyebab Stud Tail kucing jantan lebih sering terjadi, yang dikenal sebagai kancing dan penyakit hiperplasia dapat mempengaruhi kucing betina juga hingga pada keturunan kucing (dikebiri).

Diagnosa

Cara mengetahui Hiperplasia dengan melakukan diagnosa pemeriksaan fisik kepada kucing. Hal yang mendasari stud tail terhadap kucing sering terlihat secara langsung berdasarkan pengamatan yang terlihat. Selain itu, dalam melakukan diagnosa oleh dokter hewan yang profesional juga merupakan faktor yang sangat penting.

Alasan melakukan diagnosa oleh dokter hewan karena dia dapat menghindari infeksi kulit lainnya yang dapat menyebabkan infeksi sekunder. Untuk mendiagnosa hiperplasia serta infeksi sekunder Stud Tail yang terjadi pada kucing, maka dokter hewan akan melakukan prosedur seperti berikut ini:

  • Mengajukan sebuah pertanyaan tentang pengamatan yang anda terhadap kucing.
  • Mengambil sempel kultur dari daerah kucing yang terkena dampak stud tail untuk mendiagnosa jenis infeksi hiperplasia.
  • Memprediksi hiperplasia berdasarkan pada jenis kelamin kucing, serta menentukan apakah kucing kesayangan anda mengalami perubahan atau tidak terhadap ekornya.
  • Memeriksa fisik kucing secara menyeluruh yang berpusat pada kulit dan bulu di dasar atau didekat penyakit stud tail dan penyakit kulit impetigo.
  • Menguji tingkat kepekaan kulit kucing anda pada saat terkena sentuhan.

Penyebab

Cara mengetahui Hiperplasia yang terjadi pada ekor kucing disebab karena adanya aktivitas berlebihan dari kelenjar sebasea yang membuat kelimpaha terhadap sebum atau minyak kucing di bagian belakang atau ekor kucing. Selain itu, penyebab paling umum dari aktivitas berlebihan ini dikarenakan oleh tingginya kadar hormon yang disekresikan kucing jantan pada masa pubernya.

Hal tersebut bisa terjadi karena faktor transmisi mereka untuk menjadi pejantan atau berkembang biak. Untuk beberapa kasus yang terjadi pada dikebiri tidak sepenuhnya atau jarang dipahami, akan tetapi tidak berlaku demikian untuk wanita spay karena Stud Tail kucing betina juga dapat terjadi.

Kulit yang kelebihan minyak di wilayah dekat pangkat ekor dapat mengakibatkan bulu kucing menjadi berminyak sehingga berpotensi menyumbat folikel rambut yang berujung menjadi komedo. Komedo ini bisa mempengaruhi infeksi yang menyebabkan pembengkakan, rambut rontok, dan nyeri terhadap kucing.

Gejala

Tidak seperti kebanyakan kasus dalam dokter hewan, untuk cara Hiperplasia diketahui gejalanya cukup mudah diketahui oleh pemilik kucing mana pun pada saat dia berinteraksi dengan kucingnya. Untuk gejala hiperplasia yang terjadi pada kucing, kemungkinan kucing akan mengalami ketidak nyamanan, dan pada saat anda mengetahui gejala hiperplasia ini sebaiknya segera melakukan konsultasi kepada dokter hewan.

Untuk gejala hiperplasia lainnya yang diderita kucing selain rasa ketidak nyamanan yaitu sebagai berikut:

  • Kelenjar supracaudal atau sebaceous bulu kucing berminyak pada bagian belakang atau punggung kucing beserta ekornya.
  • Pada kucing yang memiliki bulu dengan warna terang akan menjadi menguning pada bagian ekor dan sekitarnya.
  • Rambut atau bulu kucing yang berada dekat ekor menjadi hilang atau rontok.
  • Pada bagian sekitar ekor kucing akan muncul komedo.
  • Kulit kucing akan berubah menjadi merah dan membengkak pada daerah sekitar ekornya.
  • Terdapat benjolan di bagian punggu kucing dan sekita ekor.
  • Kucing akan mengeluarkan bau busuk atau bau yang tidak sedap.

Pencegahan

Karena kondisi Stud Tail ini terjadi pada kucing jantan maka dalam cara melakukan pencegahan yang bisa kita lakukan adalah dengan cara mengkebiri kucing jantan tersebut. Karena neutering atau mengkebiri kucing jantan adalah solusi yang terbaik dalam mencegah masalah ini, tapi melakukan hal tersebut tidak dianjurkan dalam semua kasus. Maka dari itu sebaiknya anda melakukan konsultasi kepada dokter hewan agar lebih akurat lagi dalam upaya melakukan pencegahan.

Pengobatan

Jika kucing anda sudah didiagnosa menderita Stud Tail, sebaiknya konsultasikan kepada dokter hewan agar dokter hewan dapat merekomendasikan kepada anda cara mengobati penyakit sebum yang berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. Biasanya dokter hewan akan menentukan metode untuk menyembuhkan Stud Tail yang ampuh berdasarkan dari penampilan serta sensitivitas kulit kucing anda.

Jika yang tertular Stud Tail kucing jantan yang belum berpengalaman, kemungkinan dokter hewan akan menyarankan atau meresepkan kepada anda untuk menurunkan kadar hormon kucing tersebut dengan cara lain selain pengembirian. Berikut ini saran yang dianjurkan oleh dokter hewan:

Kasus Penyakit Hiperplasia Ringan Sampai Dengan Sedang

  • Mencuci daerah hiperplasia dengan menggunakan shampo degreasing atau shampoo anti bakteri.
  • Olesi kucing anda dengan salep topikal seperti benzoyl peroxide atau salep untuk penyakit kulit impetigo pada pusat hiperplasia.

Kasus Penyakit Hiperplasia Parah Atau Sudah Berat

  • Menggunting rambut atau bulu kucing di area yang terkena infeksi hiperplasia.
  • Gunakan steroid untuk meminimalisir pembengkakan terhadap kucing.
  • Gunaan antibiotik untuk mengobati infeksi sekunder.

Selain melakukan pengobatan diatas tadi, ada juga cara lain yang dapat dilakukan antara lain ialah:

Menggunakan Sampo Kucing Stud Tail

Dalam menjaga kebersihan kucing dapat anda gunakan sampo kucing stud tail anti-seborrhoeic (sampo ketombe) tehadap kucing, dalam penggunaannya anda harus pastikan untuk menggosok bagian tubuh kucing hingga menyeluruh lalu bilas sampai bersih terutama pada bagian ekor kucing harus sepenuhnya kering.

Merawatan Kucing yang Sakit

Kuncirlah ekor kucing anda jika diperlukan dalam melakukan perawatan. Selain itu, seringlah untuk melakukan gromming terhadap kucing anda agar kotoran yang terdapat pada bulu kucing terbuang atau cukup dengan mencukur bulunya biar udara dan sinar matahari terpapar pada badan kucing, karena sinar matahari dapat membantu dalam proses penyembuhan kondisi ini.

Netralisir Kucing

Melakukan hai ini mungkin tidak akan menyembuhkan penyakit hiperplasia, tapi bisa digunakan untuk mengurangi hormon pada kucing jantan dengan cara membiarkan kelenjar sebaceous untuk istirahat.

Tags: