Agresi: Diagnosa, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Mengobati

Kucing kecil (Kitten) yang agresi saat bermain di masa pertumbuhannya merupakan suatu keadaan yang normal. Kucing bertingkah agresif bertunjuan untuk mengembangkan kemampuan predator nya. Agar, dikala dia sudah dewasa dapat mempertahankan diri dari sasaran hewan lainnya yang membuat dia rentan terhadap segala macam bahaya. Kucing berperilaku agresi juga bisa berasal dari rasa takut, kondisi kesehatan, kecenderungan genetik, perubahan lingkungan atau untuk melindungi wilayahnya.

Agresi Kucing, Diangnosa Agresi, Penyebab Agresi, Gejala Agresi, Pencegahan Agresi, Pengobatan Agresi, Gambar Agresi, Pengertian Agresi, Pemulihan Agresi, Tanda Agresi, Penjelasan Agresi, Risiko Agresi, Penularan Agresi, Dampak Agresi, Penyakit Agresi, Ciri Agresi

Jadi, tidak heran jika kucing mengembangkan sifat agresif (agresivnost) pada saat masa pertumbuhannya. Siapa pun yang memiliki hewan peliharaan, pastilah mengerti bahwa ia membutuhkan sebuah perlindungan, terutama dari bahaya yang bisa ditemuinya di luar rumah (kandang). Namun, perilaku agresi bisa membuat kucing sulit untuk hidup bersama. Nah, untuk meminimalisir hal tersebut sebaiknya kita memahami pengertian tentang agresi kucing mulai dari diagnosis sampai ke cara mengobati nya.

Diagnosis

Umumnya, mendiagnosa agresividad infantil (agresivitas pada anak-anak) kucing dilakukan dari pengamatan perilaku dominasi seperti agresi konflik, agresion domestica (agresi domestik), agresividad familiar (agresivitas keluarga), agresija psihologija (agresi psikologi) dan agresi status sosial.

Selain itu, ada juga beberapa kondisi medis yang dapat mempengaruhi agresi paten kucing. Dokter hewan dalam melakukan diagnosa agresif kucing, biasanya dia ingin memastikan terlebih dahulu tentang riwayat medis kucing pada kondisi berikut ini:

  • Kejang (epilepsi)
  • Penyakit otak
  • Gangguan tiroid
  • Kelainan adrenal
  • Gangguan ginjal
  • Anemia
  • Timbal keracunan
  • Hipertiroidisme
  • Rabies

Penyebab

Penyebab agresi yang tidak diinginkan pada kucing bisa datang dari berbagai sumber. Seperti beberapa kucing memiliki watak yang serius dan pemarah, maka anak kucing (kitten) bisa lahir dengan tipe kepribadian yang agresif. Dan juga, pada saat hewan itu tidak melakukan kontak dengan manusia sebelum kucing usia tiga bulan atau tidak memiliki interaksi sosial dengan kucing lain, maka ia sama sekali tidak tahu bagaimana berperilaku dengan baik.

Sebaliknya, jika kucing berbagi rumah dengan kucing lainnya, mungkin kucing itu akan menegaskan hierarkinya dalam kelompok sosial. Hal ini mungkin sangat relevan, karena kucing telah mencapai usia kedewasaan sosial. Biasanya sih terjadi pada sekitar usia kucing dua sampai empat tahun.

Usia adalah pertimbangan penting mengenai perilaku, karena agresif saat bermain merupakan tahap perkembangan penting bagi kitten. Untuk perilaku pemangsa alami dimulai sekitar usia 10 sampai 12 minggu dan umumnya akan turun dengan sendirinya jika Anda sebagai pemilik hewan peliharaan menanggapi kucing dengan benar.

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, rasa takut juga bisa menimbulkan agresif pada kucing. Yang menimbulkan kucing memiliki rasa takut biasanya disebabkan oleh trauma. Kucing bisa trauma dengan lingkungan yang tidak sehat seperti tempat penampungan, kandang yang kotor dan catteries yang sesak. Jika hewan peliharaan Anda telah cenderung trauma, maka tidak heran jika agresif terjadi padanya.

Kucing bertindak Agresif juga bisa terjadi pada saat mereka yang merasa perlu untuk bersikap defensif. Contohnya, Seekor induk kucing yang telah melahirkan kitten (anak kucing) maka secara alami akan bersifat agresif dalam melindungi anaknya pada ancaman apapun yang berbahaya.

Tetapi, tingkah agresif kucing bisa juga menunjukkan bahwa ia sedang sakit atau menderita penyakit yang mempengaruhi amarahnya sehingga  tidak ingin disentuh. Jika hal ini telah dicurigai terjadi pada peliharaan Anda, maka bawalah dia kepada dokter hewan kepercayaan Anda.

Gejala

Banyak tanda agresif yang disertai dengan ekspresi wajah yang takut pada tubuh kucing. Beberapa kucing akan menunjukkan tanda-tanda seperti ini jika mereka terpojok, merasa tidak bisa melarikan diri, atau terprovokasi. Untuk jenis agresif umumnya meliputi intercat, predator, teritorial dan yang disebabkan oleh ketakutan atau rasa sakit. Pada kebanyakan kasus, beberapa tanda umum dari tipe agresif ini meliputi:

  • Menatap
  • Menguntit
  • Desis
  • Swatting
  • Tertawa
  • Menampilkan gigi (tersenyum)
  • Melompat mundur
  • Ekor lurus ke atas
  • Telinga ditarik kembali (menciut)
  • Pupil-pupil dilatasikan
  • Pembesaran rambut pada bagian belakang (hackles up)
  • Menyerang dengan cakar dan gigi
  • Menandai sebuah wilayah dengan menggosok atau menyemprotkan chin

Dari jenis ini, biasanya kucing akan menunjukkan perilaku pemangsa. Untuk perilaku pemangsa normal terjadi pada usia sekitar lima sampai tujuh minggu. Dan seekor kucing bisa menjadi pemburu yang sangat baik pada usia empat belas minggu.

Sifat Stealth (menipu), concentration (konsentrasi), ketiadaan berita (silence), mengendap-endap (slinking), ekor berkedut (twitching tail) dan postur tubuh menerkam (pounce postur) semua itu mencirikan perilaku predator atau pemangsa. Kucing kemudian akan menerjang (mencengkeram) objek serangannya (mangsa) dengan menggunakan cakar dan gigi.

Pencegahan

Untuk mencegah atau menanggulangi perilaku agresif yang terjadi pada hewan kesayangan Anda, lakukanlah dengan melihat apa yang terjadi dari sudut pandang mereka serta identifikasikan alasan dari perilaku tersebut. Mereka mungkin bereaksi atau mencoba mengkomunikasikan sesuatu terhadap Anda.

Jadi, cobalah untuk mencari tahu apa itu dan mengapa. Gunakan semua informasi yang Anda ketahui tentang kucing tersebut, termasuk kepribadian, suka dan tidak sukanya. Hal tersebut dilakukan untuk menemukan cara yang tepat dalam mengelola kucing pada situasi serta tempat dia berada.

Profesional kesehatan seperti vets dapat juga membantu Anda untuk mengurangi atau mencegah kucing melakukan agresif. Akan tetapi, semua proses pencegahan bergantung pada kitten. Beberapa cara yang dilakukan umumnya seperti ini:

  • Terapi langsung terhadap gejala yang menyebabkan kerusakan paling banyak atau kondisi yang paling mengganggu dalam diagnosa, seperti Gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan compulsions (paksaan).
  • Tawarkan pelatihan alternatif dan program lain dalam perawatan, yang dapat membantu mengurangi agresif dalam rutinitas sehari-hari mereka.

Pengobatan

Jika dokter hewan Anda sudah mengidentifikasi penyakit yang mendasari perilaku kucing, maka hal itu akan diobati terlebih dahulu oleh vets. Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, maka pengobatan kucing tergantung pada Anda. Jika ditemukan bahwa perubahan perilaku kucing didorong oleh pengalaman atau gaya hidup, maka pengobatan dengan teknik modifikasi perilaku harus dilakukan.

Ingatlah, Anda adalah bosnya, perubahan sikap harus Anda lakukan untuk merubah perilaku kucing peliharaan Anda. Melakukan perubahan sikap Anda akan merubah sifat kucing kembali ke tingkah lakunya yang semula. Beberapa perawatan dalam modifikasi perilaku, mencakup hal berikut ini:

  • Menghindari situasi yang menakutkan
  • Hindari memprovokasi atau menghasut perilaku agresif
  • Mengidentifikasi situasi yang akan memulai reaksi buruk dari kucing
  • Pelajari untuk membaca tanda-tanda yang ditunjukkan kucing kepada Anda, seperti kilatan ekor, telinganya datar, kepala membungkuk dan geraman rendah
  • Meninggalkan kucing sendirian saat sedang agresif
  • Mengidentifikasi situasi saat kucing tenang, sehingga latihan modifikasi perilaku bisa dilakukan
  • Saat tanda-tanda agresif pada kucing muncul, biarkan kucing berjalan menjauh dari Anda dan jangan mencoba untuk memberi perhatian sampai perilakunya telah berubah
  • Untuk agresi antara kucing, pisahkan dan simpan yang agresif di tempat yang jauh
  • Penggunakkan clicker mungkin juga akan dipertimbangkan untuk mendorong perilaku kucing agar mencapai sifat yang Anda diinginkan

Saat perawatan modifikasi perilaku, ingatlah bahwa sesi harus dijaga agar tidak menimbulkan kebencian, kebosanan dan penolakan pada kucing. Sangat penting untuk tidak menggunakan hukuman fisik dalam bentuk apapun pada proses perawatan modifikasi perilaku, karena hal itu hanya akan memperburuk masalah.

Untuk metode pengobatan dengan menggunakan obat, biasanya sih ketersediaan obat untuk kucing terbatas, sama halnya seperti obat anxiety dan obat kucing yang lainnya. Tetapi, jika Anda memutuskan untuk tetap menggunakan obat, maka waspadalah terhadap timbulnya efek samping yang tidak menguntungkan terhadap kucing kesayangan Anda dari obat yang di konsumsinya.